Jumat, 27 Maret 2009

Welcome Back My SE W610i

Alhamdulillah, siang tadi seorang kurir dari JNE menemui saya mengantarkan paket ponsel Sony Ericsson W610i. Setelah penantian lama saya selama 6 bulan akhirnya ponsel SE yang saya servis di Sony Ericsson Servis Center MATOS, Malang, selesai juga. Dua minggu yang lalu, karyawan SE Servis Center MATOS mengabari saya melalui pesan singkat bahwa ponsel yang saya servis sudah dapat diambil. Sungguh sebuah kabar gembira karena ponsel yang rusak tersebut masih dalam masa garansi, sehingga saya tidak di-charge untuk penggantian sparepart dan servisnya.

Hari berikutnya, kegembiraan saya tiba-tiba menurun (hihihi... istilah orang economics ya begini...) setelah mendengar kabar buruk bahwa POS, TIKI dan KGP tidak menerima kiriman ponsel. Dalam kebingungan kecil ini saya bertanya ke kiri dan ke kanan, kali aja ada teman yang mengetahui atau minimal punya pengalaman yang berkaitan dengan mengapa ekspedisi menolak pengiriman ponsel. Alhasil, berbagai jawaban yang saya panen dari teman-teman kurang memuaskan. Dari sekian responden (bukan latah trend survei politik loh), sebagian menjawab tidak pernah terlibat urusan dengan ekspedisi. Sebagiannya lagi mengaku pernah berhubungan dengan ekspedisi, namun bukan menerima/mengirim ponsel. Hanya satu responden yang mengaku pernah mengirim ponsel melalui ekspedisi. Pengalaman saya berbeda dengan responden tersebut, karena ponsel yang teman saya kirim adalah ponsel baru, bukan ponsel lama seperti yang ingin saya kirimkan.

Tidak puas dengan hasil pencaritahuan offline, saya meminjam laptop seorang teman untuk sekedar browsing untuk memecahkan kepenasaran saya tentang kenapa pihak ekspedisi menolak kiriman ponsel. Seperti biasa, melalui browser saya menuju rumah paman Google. Paman Google menunjukkan beberapa link (saya tidak suka istilah tautan) yang kebanyakan merupakan posting-an milis dan forum. Kebanyakan jawaban dalam thred forum dan milis tersebut masih kurang memuaskan karena kebanyakan merupakan rekaan para anggota milis dan forum. Jawaban tersebut antara lain: (1) karena ponsel tidak akan lolos security check waktu transit di Denpasar [ternyata Bali masih trauma bom. Sungguh sikap paranoid yang keterlaluan!]; (2) ekspedisi hanya menerima kiriman ponsel baru, dengan alasan jika terjadi kerusakan ponsel selama pengiriman, ponsel masih dalam masa garansi, sehingga ...; (3) porter dan kurir juga manusia, ada yang baik dan ada yang nakal. Bisa aja ponsel hilang di tengah perjalanan, mengingat ukurannya yang kecil.

Meskipun waktu telah menunjukkan pukul 14.20, yang menunjukkan jam kerja telah selesai dan waktunya makan siang, namu rasa penasaran mendorong saya untuk bertanya ke kantor cabang KGP dan JNE di Bima. Karyawan KGP yang saya hubungi via ponsel membenarkan bahwa KGP tidak menerima kiriman ponsel dari Jawa ke Bima. Tapi kalau pengirimannya dari Bima ke Jawa bisa. Lho kok? Sayangnya pihak KGP tidak menjawab ketika saya tanyakan mengapa mereka tidak melayani pengiriman ponsel dari Malang ke Bima. Karyawan tersebut lalu menyarankan agar ponsel tersebut saya packing dengan dimensi minimal 40 x 40 x 40 cm dan jika pihak ekspedisi menanyakan isi paket tersebut saya harus katakan isinya adalah pakaian atau barang lain selain ponsel. Ain't it riskily? Si karyawan menjawab, tidak.

Masih belum puas dengan jawaban yang saya peroleh, saya kemudian memutuskan untuk terakhir kalinya akan bertanya ke JNE, apakah mereka menerima pengiriman ponsel. Jika jawabannya adalah tidak, maka saya akan menjual ponsel tersebut dan uangnya akan saya gunakan untuk membeli ponsel baru. Alangkah riangnya hati saya ketikan pihak JNE mengatakan pihaknya menerima kiriman ponsel, sembari menunjukkan paket ponsel yang dikirim dari Bekasi ke Bima. Setelah pamitan dari kantor JNE saya langsung menghubungi adik saya di Malang agar mengirimkan ponsel saya melalui JNE. Cilaka! Rupanya adik saya yang telah dua tahun bermukim di Malang tersebut tidak tahu alamat JNE. Untungnya saya masih ingat alamat kantor JNE Malang yang diberikan oleh karyawan JNE tadi, yaitu di Jalan Hamid Rusdi. Opss... Tapi tetap saja adik saya tidak tahu menahu di mana jalan itu berada. Tak lupa saya mencaritahu lewat paman Google, seraya berkata "I'm Feeling Lucky". Si paman lalu menyuruh saya ke Malang City Map di EastJava.com yang ternyata sebuah peta jalan. Huh...! Saya lalu menghubungi Mas Tanto, dosen yang mengajar saya di EP Univ. Brawijaya, yang kemudian mengatakan bahwa Hamid Rusdi itu depan RS Lavayette (CMIIW). Saya lalu menyuruh adik saya ke tempat tersebut, tapi tetap saja adik saya tidak paham. Oh God, mau pake hp kok ribet banget sih? Saya 'kan kangen sama suara hp itu...

Titit... Titit... Sebuah pesan masuk. Ternyata dari Fahad di Malang, yang menanyakan bagaimana caranya agar dua unit PC terhubung dalam mode multiplayer game Command & Conquer Red Alert 2: Yuri's Revenge. Setelah memberikan step-by-step proses koneksinya, saya lalu bercerita panjang mengenai masalah yang saya alami dan teman saya ini menyatakan sanggup membantu. Saya lalu memintanya untuk mengambila alih proses pengiriman ponsel saya tersebut. Sehari setelah saya transfer ongkos kirim, Fahad lalu bergegas ke JNE Malang untuk mengirimkan si ponsel. Empat hari berlalu... Treteteteteteeeet... Seorang kurir dari JNE menemui saya mengantarkan paket ponsel Sony Ericsson W610i... WB my W610i... Oh God, ternyata Kamu baik hati yach... I love the way YOU love me...

goBLOG: Return of The Super Stupid BadungbOy

Bismillah,


Setelah sekian lama inactive dari kegiatan di dunia maya, tangan saya kembali "gatal". Namun "gatal" kali ini adalah gatal yang berbeda. Gatalku ini bukanlah kegatalan negatif dan semi-negatif seperti yang pernah dan sering saya lakukan 6-7 tahun yang lalu, dengan nick badungbOy ataupun viRoEs, ketika saya masih di Malang--karena saat ini saya bermukim di Bima. Pun juga tak dapat disebut sebagai kegatalan positif, karena gatal bukanlah hasil. Gatal adalah sesuatu yang disebabkan oleh sesuatu dan akan mengakibatkan sesuatu, entah itu positif, negatif atau bukan dua-duanya. Tapi yang jelas saya tidak ingin nggatheli...


Gatal perlu disalurkan. Ada banyak kegunaan daripada penyaluran gatal, antara lain mengeliminasi penyebaran gatal, mencegah gatal datang kembali (hehehe kayak iklan bedak biang keringat) dan menghindari overdosis gatal dll (mulai ngaco...)


Sekarang saya di Bima. Tentunya ada banyak hal yang berubah jika dibandingkan dengan saya ketika masih di Malang. Secara fisik, berat badan saya bertambah, tubuh lebih gemuk (WTF, entah kenapa sebagian orang menyebutku gendut) dan rambut plontos selalu. Secara nonfisik, sekarang saya adalah Abdi Negara, suka naik gunung, suka nginap di pantai maupun mancing di laut. Di tambah lagi dengan rencana saya mendirikan hobi baru: fotografi. Pfuuuuh... Saya sendiri kadang bingung dengan diri saya. Perubahan-perubahan ini hampir membuat saya menjadi bukan saya. minimal membuat beberapa orang yang pernah mengenal saya menjadi seperti tidak lagi mengenal saya. Celakanya, saya hampir melupakan hobi utama saya dahulu di bidang perkomputeran dan internet, musik, filsafat dan sastra (tiga hobi terakhir merupakan hobi pasif). Hobi-hobi tersebutlah yang telah banyak memberi kontribusi pada diri saya.


Alhasil, bertolak dari kenyataan di atas, saya ingin melanjutkan (atau menggairahkan-?) kembali kebiasaan dan hobi lama saya. Bukan untuk nostalgia. Saya bukanlah orang yang--paling tidak untuk saat ini--senang bernostalgia. Lalu bagaimana memulainya (kembali)? BLOG. Untuk sementara waktu, blog akan menjadi sarana pelampiasan kegatalan saya. Kenapa blog? Menurut saya hobi akan lebih asik dibagi. Minimal dibagicerikanlah. Istilahnya sharing. Siapa tahu pengalaman menekuni hobi tersebut mengandung ilmu.


Akhirul kalaam, berhubung kini saya sudah agak mulai mengantuk, may be ada baiknya saya akhiri dulu cuap-cuap ini. Besok pagi saya harus ikut upacara gabungan hoeey... daaagg... muuach... ai lap yu ol...

Minggat

Setelah tiga hari bermain-main dengan Wordpress (WP) akhirnya saya pindah ke Blogger. Alasannya simpel aja: (1) di WP saya tidak bisa memasang ShoutBox, (2) saya tidak dapat memasang Online Status Indicator (OSI) daripada YahooID saya dengan benar. Maksud saya, WP gagal me-link ikon smiling face ala YM tersebut. Misalnya ketika saya link OSI tersebut ke YM (ymsgr:sendIM?slankymukhlis), yang saya dapatkan malah http://aboutmukhlis.wordpress.com/sendIM?slankymukhlis. Aneh yah...